Pengertian Hikayat, Ciri, Karakteristik & Jenis

Pengertian hikayat
Pengertian hikayat

Dunia sastra Indonesia kaya akan karya-karya bernilai tinggi. Salah satu jenis karya sastra lama yang memikat hati pembaca adalah hikayat. Namun, tahukah Anda, apa itu hikayat?

 

Artikel ini mengajak Anda untuk mengenal lebih jauh tentang hikayat. Kami akan mengupas pengertian hikayat, ciri-ciri yang melekat padanya, unsur intrinsik yang membangun cerita, hingga berbagai jenis hikayat yang populer di Nusantara. Mari simak!

 

1. Menyingkap Pengertian Hikayat: Lebih dari Sekadar Dongeng

Kata “hikayat” berasal dari bahasa Arab, yang berarti “cerita” atau “kisah.” Namun, dalam khazanah sastra Indonesia, hikayat memiliki makna yang lebih luas. Hikayat merupakan karya sastra lama berbentuk prosa yang berisi cerita, undang-undang, dan silsilah.

Cerita yang dikisahkan dalam hikayat umumnya bersifat fiktif, namun tak jarang juga mengandung unsur sejarah, agama, atau biografi tokoh tertentu. Hikayat kerap dibumbui dengan khayalan dan keajaiban, sehingga memiliki daya tarik tersendiri bagi para pembaca.

2. Ciri Khas Hikayat: Membedakannya dari Karya Sastra Lain

Meskipun sekilas mirip dengan dongeng, hikayat memiliki ciri-ciri tersendiri yang membedakannya dari karya sastra lain. Berikut ini beberapa ciri khas hikayat:

Berbentuk Prosa: Cerita hikayat disusun dalam bentuk narasi, bukan dialog atau puisi.
Bersifat Rekaan: Unsur fiksi mendominasi cerita hikayat, meski mungkin dipadukan dengan unsur sejarah atau keagamaan.
Mengisahkan Tokoh Bangsawan atau Tokoh Ternama: Hikayat umumnya bercerita tentang kehidupan raja-raja, pangeran, putri, kaum bangsawan, tokoh agama, atau orang-orang yang dianggap sakti.
Mengandung Unsur Keajaiban dan Kesaktian: Kejadian ajaib dan tokoh yang memiliki kesaktian kerap menjadi benang merah dalam cerita hikayat.
Bertujuan Memberikan Pengajaran: Hikayat biasanya memiliki pesan moral yang ingin disampaikan kepada pembaca.
Menggunakan Bahasa Kuno: Bahasa yang digunakan dalam hikayat adalah bahasa Melayu Kuno atau bahasa daerah yang dipengaruhi bahasa Arab dan Sanskerta.
3. Unsur Intrinsik Hikayat: Membangun Jalinan Cerita yang Menarik

Layaknya karya sastra lainnya, hikayat memiliki unsur intrinsik yang membangun jalinan cerita yang menarik. Berikut beberapa unsur intrinsik yang terdapat dalam hikayat:

Tema: Merupakan ide atau gagasan pokok yang mendasari cerita hikayat. Tema cerita hikayat bisa beragam, seperti kepahlawanan, cinta kasih, perjuangan melawan penjajahan, atau ajaran moral tertentu.
Plot: Jalinan peristiwa yang terjadi dalam cerita hikayat. Plot hikayat biasanya terdiri dari eksposisi, konflik, klimaks, resolusi, dan koda.
Tokoh dan Penokohan: Tokoh dalam hikayat bisa dibedakan menjadi protagonis (tokoh utama yang baik), antagonis (tokoh utama yang jahat), dan tritagonis (tokoh pembantu). Penokohan dalam hikayat biasanya digambarkan secara hitam putih, sehingga pembaca bisa dengan mudah memahami karakteristik masing-masing tokoh.
Latar: Merupakan tempat dan waktu terjadinya peristiwa dalam cerita hikayat. Latar hikayat bisa berupa kerajaan, hutan belantara, istana, atau tempat-tempat lain yang sesuai dengan jalan cerita.
Amanat: Pesan moral yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca melalui cerita hikayat. Amanat biasanya disampaikan secara tersirat melalui perilaku dan pengalaman tokoh-tokoh dalam cerita.
4. Perjalanan Hikayat: Dari Lisan Hingga Tertulis

Pada mulanya, hikayat dituturkan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Para pengisah atau dalang menyampaikan cerita hikayat dengan gaya bahasa yang memikat dan diiringi dengan musik tradisional.

Baru pada abad ke-7 Masehi, tradisi lisan ini mulai dialihkan ke bentuk tulisan. Hikayat ditulis menggunakan lontar, kulit kayu, atau kertas dengan huruf Arab Melayu atau huruf daerah setempat.